Home Dare To Dream, Care To Share Tentang Mendidik dan Pendidikan

Tentang Mendidik dan Pendidikan

Artikel ini merupakan satu dari 6 artikel terbaik “Dare To Dream, Care To Share” edisi Mei 2015 (Mendidik Anak Bangsa). Artikel ini ditulis oleh Farraas Afiefah Muhdiar, mahasiswa MSc Development, Disorder, and Clinical Practice di University of York.


Teman saya pernah bilang, “passion itu sesuatu yang masih mau kita kerjain dengan senang hati meskipun nggak dibayar.” Jika memang demikian, mengajar adalah salah satu passion saya. Teaching, for me, is immensely blissful and rewarding.

Sebelum melanjutkan studi di UK, saya sempat menjadi pengajar untuk anak berkebutuhan khusus di sebuah sekolah nasional plus di Jakarta. Meskipun hanya mengajar selama 18 bulan, pengalaman mengajar tersebut akan selalu membekas di hati saya. Mengajar anak dengan autisme atau gangguan belajar membuat saya menjadi sosok yang lebih sabar dan menghargai proses dan usaha. Saya juga belajar untuk konsisten dalam mendidik serta seimbang dalam memberikan kasih sayang dan disiplin.

Saya masih ingat hari-hari pertama berinteraksi dengan mereka. Di hari ketiga saya mengajar, saya sudah membuat seorang anak menangis karena saya melarang ia untuk keluar kelas sebelum berhasil menyelesaikan soal yang saya berikan. Anak ini sudah kelas empat SD, tapi masih kebingungan saat melakukan pengurangan dua digit dengan metode susun ke bawah. “It’s really hard, Bu, I can’t do it.” Melihat ia menangis, saya ikutan sedih, dan bahkan hampir meneteskan air mata. Saya hampir saja luluh dan mempersilakan dia untuk meninggalkan ruangan kelas bersama temannya yang lain, tapi guru-guru yang lain serta teori-teori yang saya pelajari ketika kuliah mengajarkan saya untuk tegas dan konsisten dalam menerapkan peraturan. Saya pun terus menambahkan soal karena dia belum juga berhasil, sambil menuntunnya agar berhasil menemukan jawaban yang benar. “Ayo, dicoba lagi!” “Sedikit lagi!” “Satu nomor lagi ya…” Sampai akhirnya, dia berhasil menjawab soal yang saya berikan serta dua soal tambahan yang saya berikan untuk memastikan bahwa ia benar-benar telah mengerti. Anak itu lalu tersenyum bangga. “Susah atau gampang, Go?” tanya saya. “It’s easy, Bu!!!” katanya, seolah lupa kalau beberapa menit yang lalu ia baru saja menangis karena merasa tidak sanggup mengerjakan soal yang saya berikan.

Dari anak-anak dengan gangguan perkembangan itu lah saya belajar tentang persistensi dan resiliensi. Bahwa memenuhi ekspektasi di lingkungan bukan lah hal yang mudah. Bahwa tantangan akan selalu ada, namun kegigihan kita dalam berusaha tentu akan membantu kita untuk berkembang dan mengatasi tantangan-tantangan tersebut. Jika mengingat perjuangan anak-anak ini untuk sekedar bisa berinteraksi dengan teman-teman sebaya, membaca dan berhitung, menggambar dan mewarnai, serta bermain angklung, saya yang neurotypical ini jadi malu sendiri kalau mudah putus asa untuk berjuang di UK.

Menjadi pengajar bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, terutama mengajar anak-anak yang membutuhkan usaha dan waktu ekstra untuk bisa melakukan hal-hal yang bisa dilakukan dengan mudah oleh kebanyakan orang. Teaching them requires a lot of patience, demands creativity and flexibility, and is exhausting sometimes. But once you see them develop and show better performance each day, you will know that everything you do is worth it.

IMG_20140612_055225

Hadiah perpisahan dari murid-murid saya. Membayangkan proses pembuatannya membuat saya bangga sekaligus terharu. (dokumentasi pribadi)

Mengajar merupakan pekerjaan yang mulia karena kita bisa membantu orang lain dan menanamkan nilai-nilai positif kepada orang lain, but to be frank, kadang-kadang saya merasa mendapatkan lebih banyak manfaat daripada orang yang saya ajar. Selain bisa belajar dari anak-anak yang saya temui di kelas, saya juga bisa menerapkan ilmu psikologi yang sudah saya pelajari, bahkan memperkayanya dengan hal-hal yang bisa saya observasi di lapangan.

“The teacher is the one who gets the most out of the lessons, and the true teacher is the learner.” – Elbert Hubbart

 

Saking rindunya mengajar, saya tetap mencari-cari kesempatan untuk mengajar meskipun sedang menempuh master’s degree di York – salah satunya dengan mengajar Bahasa Indonesia ke salah satu warga Inggris dan volunteer seminggu sekali di sekolah dasar di dekat kampus. Dari pengalaman volunteer ini, saya mendapatkan kesempatan untuk mengobservasi sistem pendidikan dasar di UK. Saya jadi paham mengapa kebanyakan teman-teman sekelas saya di kampus (yang lahir dan besar di UK) lebih kritis dan berani berpendapat daripada saya. Mereka sudah diajarkan untuk berpendapat sejak dini, karena pendidikannya dilakukan secara dua arah. Ketika sedang belajar tentang kalimat pembuka, misalnya, guru kelas akan meminta salah satu anak untuk membuat kalimat, lalu meminta pendapat murid-murid lain mengenai kalimat tersebut, dan kata sifat apa yang bisa ditambah atau diganti. Dari kegiatan sederhana tersebut, selain belajar mengenai kata dan kalimat, anak-anak juga belajar untuk berpendapat dan menerima masukan dari orang lain.

“Can you tell me a word that you like from your friend’s opening sentence?” (dokumentasi pribadi)

Di sini, guru-gurunya juga menekankan kalau semua pelajaran, bahkan drama dan olah raga, memiliki manfaat untuk anak. Mereka juga tidak mementingkan nilai, asal anak sudah berusaha maksimal. Kepala sekolah di tempat saya volunteer, misalnya, pernah saya temui sedang menenangkan seorang anak yang sedang panik sebelum mengikuti tryout SATs, ujian berskala nasional untuk siswa kelas 2 dan 6 di UK. “This test is important, but it won’t be the end of the world. You have an amazing brain and you’ve worked really hard. Your parents are going to be proud of you no matter what. You’ll be fine,” kata ibu kepala sekolah dengan bijaknya. Sejak kecil, anak-anak ini sudah diajarkan bahwa nilai bukanlah segala-galanya. Saya tahu ada beberapa sekolah di Indonesia yang menerapkan konsep serupa, tapi saya masih ingat betul bagaimana guru-guru saya di SMA menekan kami untuk mendapatkan nilai UAN yang bagus, bagaimana pun caranya, supaya peringkat sekolah kami tetap tinggi.

Guru-guru yang saya temui di Inggris juga menghargai usaha dan perkembangan yang diperlihatkan oleh anak, bukan kemampuan yang sudah dimiliki sejak awal. Setiap selesai mengoreksi tugas, misalnya, guru kelas akan memanggil nama beberapa anak dan menyebutkan di depan kelas bahwa anak-anak tersebut menunjukkan kemajuan pesat dalam tugas yang dikerjakan. “You all did an amazing job, but some of your friends surprised me by showing such a great improvement in writing! X used more details and adjectives, and Y’s spelling has gotten really well. Let’s give appreciation to that!”

Ruangan kelas dua (dokumentasi pribadi)

 

Saya tahu kalau pengalaman volunteer saya di UK belum cukup valid untuk digunakan untuk membandingkan kualitas pendidikan di UK dan di Indonesia. Apalagi, saya belum pernah mengajar di sekolah negeri di Indonesia. Meskipun demikian, apa yang dilakukan oleh guru-guru yang saya temui di sini menurut saya perlu ditiru oleh guru-guru di Indonesia. I know it’s still a long way to go, tapi saya harap suatu saat nanti kualitas pendidikan di Indonesia bisa sebanding dengan di negara-negara maju. Saya percaya kalau pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan usia dini, merupakan investasi terbesar bagi anak. Pendidikan dapat membentuk pola pikir, sikap, dan karakter seseorang. Karenanya, saya yakin betul bahwa pendidikan yang baik akan menghasilkan SDM-SDM yang berkualitas.

Saya harap, semua anak di Indonesia kelak bisa mendapatkan pendidikan yang baik tanpa harus mengeluarkan jutaan rupiah per bulan. Because I believe that a top-notch education should be a right of every child, not a privilege.

Comments