Home Pesan Anak Bangsa Studi S3 di Usia Larut Senja

Studi S3 di Usia Larut Senja

‘Education is bitter, but the fruits of education are sweet’ (Anon.)

Keponakan saya pernah bilang,‘Bude ini hobinya sekolah’. Mungkin dia benar, tapi bukankah menuntut ilmu itu sampai akhir hayat, life long education?

Tulisan ini dimaksudkan untuk berbagi pengalaman dan cerita bagaimana menjalani studi S3 di usia pensiun. Dengan harapan semoga bermanfaat, menambah semangat dan memberi inspirasi bagi mereka yang sedang menempuh studi ataupun yang punya rencana melanjutkan studi pasca sarjana.

Mendapat kesempatan studi S3 di usia yang sudah tidak tergolong muda adalah kesempatan yang langka. Apalagi melakukan riset di bidang yang saya sukai, renewable energy, sungguh sebuah impian yang menjadi kenyataan.

Di usia yang sudah tergolong ‘udzur’ ini, dan memenangkan seleksi di antara kandidat S3 yang jauh lebih muda, sungguh merupakan sebuah prestasi yang harus saya syukuri, dan tentunya tidak saya sia-siakan kesempatan ini.  So, dengan mengucap ‘Bismillah’, saya memutuskan untuk menjalaninya.

Dengan semangat tinggi dan entusiasme, saya melangkah memasuki pintu Conference Centre untuk menghadiri sesinya Prof. Chris Park di hari pertama fresher week. Berbagai campur aduk emosi: bahagia, excited, dan sedikit rasa gamang memenuhi dada.

Kata beliau, ‘PhD is a piece of three years research work. It is not a noble prize work. So, you are expected to be able to complete it in three years time’. Beliau menambahkan, statistik menunjukkan bahwa  rata-rata mahasiswa Lancaster University menyelesaikan studi S3 dalam waktu 4tahun, sepuluh persen selesai on time, dan sepuluh persen lainnya, karena berbagai kondisi, selesai lebih dari 4 tahun.

Saat itu, saya berdoa dalam hati, dan bertekad akan menyelesaikan studi dalam waktu tiga tahun, bang on time! Tapi seperti kata Pilon dalam ‘Dataran Tortilla’–nya Stein Beck, ‘Demikianlah yang terjadi, kenyataan selalu jauh dari rencana’.

Ternyata, di usia yang sudah banyak keterbatasan ini – energi dan waktu, studi merangkap kerja dan mengurus keluarga, bukanlah suatu kegiatan yang bisa saya jalani dengan mudah. Banyak faktor eksogen yang kadang di luar kendali yang secara langsung dan tidak langsung menganggu, menyita dan merampok waktu yang mestinya saya alokasikan untuk studi. Apa daya …

Dalam proses perjalanan studi, muncul bergantian kendala: delay pembelian dan pengiriman alat, perubahan dan modifikasi desain rig, another delay untuk membangun rig, urusan birokrasi, ganti pembimbing karena beliau harus pindah, refurbishment besar-besaran di lingkungan lab sehingga tidak bisa melakukan eksperimen selama 4 bulan for the sake of health and safety issues, dan masih banyak hal lainnya, membuat frustrasi, marah, dan kesal.

Studi S3 adalah sebuah perjalanan, both the findings and the process are important. PhD journey can be a lonely.work. Hubungan baik dengan pembimbing itu sangat penting, baik untuk urusan akademik dan urusan sosial, kunci sukses dan kelancaran studi kita. Pembimbing yang suportif, mumpuni dalam bidangnya, pertemuan atau diskusi yang teratur akan sangat membantu kita membuat progres secara kontinyu sehingga kita bisa selesai on-time. Tentu saja ada faktor-faktor eksogen lainnya yang kadang di luar kontrol kita yang bisa menjadi kendala bagi kelancaran studi, misalnya pembimbing pindah, sakit, pensiun, atau meninggal. Semuanya benar-benar saya alami, kecuali yang terakhir. Karena itu kita juga harus mentally prepared … expected the unexpected, resilience, determination, be creative, and keep positive, terutama ketika kesulitan2 itu menghadang kita.

Namun studi PhD bukan satu-satunya kegiatan dalam hidup kita. Kita juga punya kehidupan lain yang harus kita urus, kita jalani. Karena itu kita harus berusaha menjaga keseimbangan dalam hidup kita: mengurus keluarga, bersosialisai, menekuni hobi, pergi holiday, dll.

Kita harus punya cara bagaimana bisa menyalurkan energi marah, frustrasi, kesal, ke kegiatan-kegiatan positif. Itulah pentingnya menjaga keseimbangan, tidak hanya melulu fokus dengan studi saja dan mengabaikan urusan kehidupan yang lain. Saya bersyukur, punya semacam hobi, atau kegiatan-kegiatan yang menurut saya sangat soothing, yang secara fleksibel bisa saya tarik dalam kehidupan saya untuk mengalihkan energi-energi marah yang punya potensi destruktif ketika studi saya stuck for various reasons.

Saya suka melukis, menulis, eksperimen masak – mencoba resep masakan, berkebun – menanam sayuran dan kalau perlu mengajak omong tanaman, dan jalan-jalan … kalau ada extra budget! Tentu saja masih ada hobi aneh lainnya kalau lagi frustrasi, misalnya, tadarus! Jadi kalo Bude cepat khatam, itu tandanya hasil dari menyalurkan frustrasi puncak gunung!

Saya punya prinsip, kalau kita tidak berhasil di satu hal, maka kita bisa berhasil di lain hal, sehingga tidak merasa down, and have a sense of achievement. After all, kita ini bagian dari Grand Design dari Yang Maha Kuasa.

Sebagai penutup, bagi para kawula muda, bila kalian berencana untuk melanjutkan studi, sebaiknya lakukanlah ketika masih muda, ketika punya banyak waktu, energi dan semangat masih tinggi. Pelihara hubungan baik dengan pembimbing. Tetap menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Ingat PhD study bukanlah satu-satunya kegiatan dalam hidup kita. Kita juga punya kehidupan lain yang menarik, yang akan memberi kita kebahagiaan dan sekaligus memelihara semangat dan keteguhan kita untuk menyelesaikan studi sampai rampung.

“The main hope of a nation lies in the proper education of its youth” (Erasmus)

‘Bude’ Esti Mardiani-Euers

Mahasiswi PhD di bidang Low Head Hydro Energy

Lancaster University

Prestasi:

1) Pemenang Lancaster Award

2) Pemenang lomba cerpen nasional (UK) dan peluncuran bukunya oleh istri Perdana Menteri Gordon Brown

3) Pemakalah di Temu Ilmiah Internasional Mahasiswa Indonesia 2011

4) Exhibition Water Colour Painting di Ashton Memorial, Williamson Park, UK

5) Anggota PPI paling senior