Home Dare To Dream, Care To Share Siapa yang Bertanggung Jawab atas Pendidikan Anak-Anak Kita?

Siapa yang Bertanggung Jawab atas Pendidikan Anak-Anak Kita?

Artikel ini merupakan satu dari 6 artikel terbaik “Dare To Dream, Care To Share” edisi Mei 2015 (Mendidik Anak Bangsa). Artikel ini ditulis oleh Esti Mardiani-Euers, mahasiswa PhD di Department of Engineering, Lancaster University.


‘EDUCATION’ is a big word. Saya mencoba membuka tiga kamus, Merriem Webster, Oxford dan Oxford Learner’ dictionery, semuanya melibatkan kata ‘the process of’, dan kata berikutnya berbeda tapi maknanya kira-kira sama, yaitu educating, training, teaching, learning, receiving systematic instruction.  Lalu, semuanya menyebutkan kata institusi pendidikan: schools, college, university. Oleh Oxford Learner’s Dictionery diakhiri dengan ‘to improve knowledge and develop skills’.

Yang menarik buat saya dari seluruh definisi pendidikan di atas adalah kata ‘proses’ itu sendiri. Proses tidak menggambarkan hasil, tetapi perjalanan dalam mencapai hasil. Jadi ada pengertian journey, kurun waktu, perioda, tidak seketika, tidak instant.

Demikianlah sifat dari pendidikan. Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Kita tidak bisa melihat hasilnya seketika. Apalagi pendidikan suatu bangsa. Bisa satu generasi, dua generasi baru kelihatan hasilnya. Lihat pendidkan politik di Indonesia saat ini dihitung sejak lengsernya Suharto di tahun 1998 tujuh belas tahun yang lalu. Hampir satu generasi, tetapi belum juga tampak hasilnya, dalam arti mature democracy, kesadaran akan hak dan kewajiban setiap individu untuk ikut membangun bangsa, sehingga keadilan dan kemakmuran bisa dirasakan secara merata. Tidak hanya sekelompok orang, segolongan manusia yang sedang berkuasa atau anggota DPRi yang katanya mewakili suara rakyatnya. Semoga dalam perjalanan menuju ke arah cita-cita bangsa yang tertulis jelas-jelas di UUD ’45, bangsa kita bisa selamat sampai ke sana, tidak salah jalan atau malah berbalik arah.

Sungguh menyedihkan, pendidikan saat ini juga telah berubah menjadi sebuah komoditi perdagangan. Penerimaan mahasiswa menjadi alat untuk mencetak uang, pendapatan universitas, sekolah, institusi pendidikan.

Pertanyaan berikutnya berkenaan dengan definisi pendidikan, ‘to improve knowledge and develop skills’. What knowledge and skills need to be improved and developed?

Para pakar dan praktisi pendidikan selalu pusing tujuh keliling memikirkan sistem pendidikan, dan mengejawantahkannya dalam praktek: pendidikan seperti apa yang cocok di Indonesia, yang akan membangun bangsa, dan berakibat mencerdaskan dan mamakmurkan rakyatnya, sekaligus kompetitif terhadap negara lain? Lha buktinya, setiap ganti Menteri Pendidikan, pasti ganti sistem pendidikan — menganggap sistem lama sudah tidak cocok lagi, out of date.

Menarik sekali ketika Negara bagian Victoria di Australia mempromosikan perpustakaan kelililing besar-besaran di tahun 1980-an, dalam rangka memajukan pendidikan anak. Mereka menggunakan moto kampanye ‘Our children are our future’ dengan mengadakan perpustakaan keliling, memperkenalkan buku bacaan ke pada anak-anak di daerah-daerah terpencil.

‘Buku adalah jendela ilmu’, demikian kata orang bijak, sumber ilmu pengetahuan, knowledge. Jadi memperkenalkan ilmu melalui buku bagi anak-anak ini penting untuk memberi mereka inspirasi dalam menumbuhkan cita-cita untuk masa depan mereka.

Betulkah nasib kita, masa depan kita ditentukan oleh anak-anak-kita, para generasi muda? Dan suksesnya sistem pendidikan di suatu negeri menjadi kunci kemakmuran dan kemajuan bangsanya?

Mari kita belajar – menjalani pendidikan, dengan menengok negeri tetangga, Singapura. Saat ini, populasi penduduknya sekita 5.6 juta. Dilihat dari segmen usia produktif saat ini, piramida populasinya bagus sekali, antara usia 20-60, rata (rectangular shape). Usia produktif ini juga dibarengi dengan kemampuan inteletual mereka.

‘Mayoritas warga Singapura adalah lulusan S1,’ kata seorang dosen yang mengajar Operation Research di Lancaster University Management School. Dia berasal dari Singapura.

Piramida penduduk ini mulai meruncing perlahan di usia 60-70, lalu mengerucut di usia 90-100. Usia di bawah 20, piramidanya menyusut sedikit dibanding usia produktif.

Bandingkan Indonesia, saat ini populasinya 256 juta, 50 kali total warga Singapura. Piramida populasinya seperti Gunung Merapi, dari usia nol sampai ke atas makin meruncing, mengecil persentasinya. Usia produktif, 20-60, persentasi populasinya menurun dari 4% ke 2.2%. Artinya, semakin tambah usia, populasi usia produktif berkurang jumlahnya. Piramid populasinya terus meruncing sampai usia 90-100.

Anggaran Pendidikan di negeri Singa ini 20% dari APBN-nya. Indonesia juga memiliki anggaran pendidikan 20% dari total APBN, Rp 404 triliun di tahun 2015. Perbedaaanya, di Singapura, anggaran pendidikan digunakan untuk mensubsidi pendidikan negara dan pendidikan swasta bagi warga Singapura serta untuk dana program Edusave (Hedisasrawan, 2015). Edusive pada dasarnya bantuan beasiswa dari pemerintah bagi anak-anak kelahiran Singapura berupa contribution, grant dan scholarship, termasuk bantuan dan untuk sekolah mereka: resources for school enrichment activities untuk pengembangan holistik akademik dan non akademik.

Di Indonesia, alokasi Anggaran Pendidikan 2015 diprioritaskan untuk Meningkatkan Akses, Kualitas, Relevansi, dan Daya Saing Pendidikan. Bagaimana persisnya implimentasi dari dana tersebut, saya tidak tahu.

Pada tahun 2012, universitas di Singapura masuk ke daftar 50 universitas terbaik di dunia. Singapura tidak punya sumber bahan alam, jadi mereka mengandalkan pendapatan negara dari services dan manufacture yang sudah high tech high touch. Artinya membutuhkan tingkat pendidikan dan kemampuan teknologi yang tinggi.

Di tahun 2011, pertumbuhan ekonomi Singapura mencapai 14,7%, suatu lonjakan yang luar biasa. Jadi memang ada relevansi antara tingkat pendidikan penduduk dan tingkat kemajuan dan kemakmuran suatu negeri.

Tapi betulkan hanya dengan modal pendidikan ilmu, keterampilan, dan teknologi yang membuat Singapura menjadi seperti sekarang ini? Tentu saja tidak. Ini semua berkat perjuangan dan kerja keras dari Bapak Pembangunan dan Reformasi Singapura, Lee Kuan Yew. Dialah yang menerapkan program reformasi besar-besaran untuk mengubah Singapura dari negara yang pernah disebut sebagai ‘limbah kemelaratan dan degradasi’ menjadi negara industri modern. Tidak ada seorang pun yang bisa menyangkal keberhasilan Lee Kuan Yew.

LKY_obit_2303_620_422_100

Sumber gambar: themalaymailonline.com

Nobody’s perfect, tidak ada hasil tanpa pengorbanan. Lee harus menerapkan pengendalian politik yang ketat atas aspek-aspek kehidupan, yang membuat negara itu menjadi masyarakat yang paling diatur di dunia. Kata teman saya, kitab Undang-Undang di Singapura besarnya setebal bantal.

Lee menangkap para pengkritiknya tanpa lewat pengadilan, membatasi kebebasan media dan penerbitan asing, termasuk menangkap sejumlah wartawan.

‘Kebebasan pers, kebebasan media berita harus di bawah kebutuhan integritas Singapura’, katanya.

Lee juga menempuh langkah-langkah pemberantasan korupsi dan mewujudkan kebijakan rumah murah serta program industrialisasi untuk menciptakan lapangan kerja. Dalam dua dekade, 1960-1980, pendapatan per kapita Singapura meningkat sampai 15 kali lipat. Singapura termasuk Negara ke-7 yang korupsinya terendah di dunia.

Seorang teman, PhD student dari Cina, berkata bahwa dia ingin mencari kerja di luar Cina karena korupsi negerinya ada di mana-mana. Lee memahami betul karakter masyarakatnya yang mayoritas Cina. Dia menyiasati dengan undang-undang, regulasi, kebijakan yang otoriter dan disiplin keras. Tapi dia juga menciptakan pemerintahan yang bersih. Dan inilah sebenarnya kunci keberhasilan Lee: clean government and good governance. Lihatlah sekarang hasilnya. Rakyat Singapura menikmati keuntungan ekonomi dari reformasi gaya Lee.

Jadi, dengan kata lain, tidak cukup hanya mencerdaskan rakyat saja dengan pendidikan formal. Tapi juga harus didukung dengan pimpinan pemerintahan dan partai politik yang terdiri dari orang-orang yang cerdas, disiplin dan bersih –smart leaders with the right mental attitude!

Kembali ke PENDIDIKAN. Lalu siapa yang harus  bertanggung jawab mendidik dan membangun karakter bangsa? Guru-gurukah, Menteri Pendidikan, Kepala Pemerintahan? Siapa yang harus memulainya?

Yang pertama harus bertanggung jawab adalah para orang tua! Jadi, kalau orang tuanya guru, Menteri Pendidikan, pimpinan partai, ya mereka termasuk yang bertanggung jawab!

Orang tualah yang pertama melihat anaknya sampai dengan usia 5 tahun, paling tidak, sebelum anak mulai sekolah pra-TK atau TK, sebelum anaknya mulai intesif bergaul dengan anak-anak dan lingkungan di luar rumah. Orang tualah yang membentuk, menanamkan nilai-nilai yang baik dan mengajar budi pekerti yang luhur. Lima tahun pertama membangun fundasi yang kuat, menciptakan situasi, kondisi, suasana lingkungan yang kondusif, suportif dan kreatif, serta menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik, teratur, disiplin, dan suasana yang memungkinkan anak tumbuh dan berkembang dengan bahagia, aman, dan sehat.

Lalu bagaimana caranya? Guru yang paling baik adalah adalah contoh, suri tauladan. Kenapa? Karena anak-anak di usia balita belajar dari mengamati, menirukan dan mencontoh kelakuan orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya.

Bagaimana orang tua bisa mengharapkan anaknya disipilin, rajin, menjaga kebersihan, santun, makan makanan yang sehat kalau mereka sendiri, para orang tua hidupnya tidak disiplin, jorok,  dan suka junk food, mengumpat dan menghardik anak-anak mereka?

Anak kecil hanya tahu apa yang mereka lihat, dengar, dan itu yang mereka anggap sebagai suatu kebenaran yang patut ditiru.

Nah, sebagai seorang pensiunan yang menjadi korban ketidakadilan, saya tantang para generasi muda, calon-calon pemimpin bangsa. Anda-anda yang pintar, cerdas, dan punya budi pekerti luhur, maukah menjadi pemimpin yang bisa mecerdaskan dan memakmurkan bangsa dan negeri kita — dengan contoh dan suri tauladan? Ayo, rame-rame masuk partai supaya bisa meng-goal-kan Undang-Undang yang bisa mencerdaskan rakyat, menjadi bangsa terdidik, dan tidak dipandang underdog terus.

Bisa meniru Singapura, better late than never, memberi subsidi pendidikan bagi warganya, pendidikan gratis bagi anak-anak miskin, terutama bagi yang cerdas dan punya talenta supaya kelak bisa menjadi pemimpin yang cerdas dan berwawasan luas sekaligus arif dan adil? Lha, gampang tho, kan tinggal mengesahkan undang-undangnya dan anggarannya di DPR, disusul dengan PP, Juklak, dan dilaksanakan.

DPR-2

Sumber gambar: suryanews911.com

Saya teringat dengan dagelan seorang teman, sesama pensiunan, tentang obrolan tiga orang dosen dari UI, ITB dan UGM:

‘Nggak usah nervous dengan mahasiswa kita yang dapat nilai A. Mereka nanti akan menjadi kolega kita, jadi dosen. Kepada mahasiswa yang dapat nilai B, kita mesti baik-baik dengan mereka, karena mereka nantinya bakal jadi pengusaha yang akan kasih proyek buat kita. Lha yang kita harus merasa was-was justru kepada mahasiswa yang dapat C atau D. Mereka nanti jadi pimpinan partai politik, dan merekalah yang akan menentukan nasib kita!!!‘

‘Bagaimana kalau posisinya ditukar? Yang dapat C jadi dosen saja, sedangkan yang dapat A rame-rame mendaftar jadi anggota partai politik. Ya, siapa tahu, Indonesia malah bisa makmur gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Bisa saja tho, the imposible is posible?’

Sebagai pamungkas, saya kutipkan tulisan Antioine de Saint Exupery dalam novel kecilnya ‘Terbang Malam’:

Ujian pemimpin itu pada saat kritis, bukan pada saat normal. Jadi perlu dilihat: bagaimana sikap sang pemimpin dalam memelihara keseimbangan intelektual dengan keseimbangan jiwanya. Mungkin maksud si Antoine, pemimpin yang tetap adil dan arif bijaksana dan mengurus rakyatnya dalam segala situasi: ketika sedih dan senang, di masa perang atau damai, ketika dia kaya atau bangkrut usahanya.

(‘Lho boleh, tho, jadi presiden sekaligus jadi pengusaha?’)

Rampung. Lancaster menjelang magrib, May 2015


Tulisan di atas didukung dari berbagai sumber:

  1. Pendidikan di Singapura (Artikel Lengkap). http://hedisasrawan.blogspot.co.uk/2015/03/pendidikan-di-singapura-artikel-lengkap.html
  2. Population Pyramid of Singapore in 2015. (http://populationpyramid.net/singapore/2015/)
  3. Population Pyramid of Indonesia in 2015. (http://populationpyramid.net/indonesia/2015/)
  4. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI 15 Agustus 2014 (https://id-id.facebook.com/Kemdikbud.RI/posts/596735373769240)
  5. Mulai.2015 Alokasi Anggaran Pendidikan Rp.404 Triliun (http://edukasi.kompas.com/read/2014/08/21/10394241/Presiden.Mulai.2015.Alokasi.Anggaran.Pendidikan.Rp.404.Triliun)
  6. Obituari Lee Kuan Yew. http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/03/150227/
  7. Edusave Scheme. http://www.moe.gov.sg/initiatives/edusave/
  8. Rekor pertumbuhan ekonomi bagi Singapura. (http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2011/01/110103_singapura.shtml)

Comments