Home Events Seminar PPI Oxford: Refleksi Demokrasi Indonesia dari Pilpres 2014

Seminar PPI Oxford: Refleksi Demokrasi Indonesia dari Pilpres 2014

Pada hari Jumat, 20 Januari 2015, perwakilan Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK) menghadiri seminar yang diselenggarakan oleh PPI Oxford yang berjudul “Oxford Indonesian Talks on Indonesia’s Democracy: The 2014 Presidential Election.” Seminar tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Dr Anne-Marie Oostveen yang merupakan peneliti di Oxford Internet Institute, serta Rory Asyari, mahasiswa magister jurusan komunikasi politik di University of Sheffield yang juga merupakan seorang jurnalis di Indonesia.

 

10967600_10205790746678843_1777250729_o

 

Acara yang dimulai pada pukul 17.30 di Robert Hooke Building ini dibuka dengan presentasi dari Rory Asyari yang berjudul “Indonesian Media: Under Oligarchic Hands”. Rory memberikan gambaran perihal konstelasi media yang berada di Indonesia, di mana hanya terdapat 13 kantor media yang mengontrol berbagai isu yang telah dipublikasikan kepada masyarakat luas. Monopoli tersebut menyebabkan terjadinya bias pemberitaan, seperti yang dijelaskan Rory, “Lima pemilik kantor media terbesar di Indonesia memiliki kaitan politik yang kuat dengan salah satu partai politik tertentu”. Namun anehnya, ternyata kepercayaan publik terhadap media masih dapat dikategorikan tinggi. Sebanyak 68% masyarakat Indonesia menyatakan masih mempercayai berita dari berbagai media massa. Hal ini cukup mengkhawatirkan terutama karena pemberitaan yang bias dalam masa pemilihan umum presiden dapat mengakibatkan massa untuk mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum tentu benar.

Setelah itu, presentasi dilanjutkan oleh Dr Anne-Marie Oostveen. Anne mempresentasikan perihal “E-voting, a silver bullet?”. Pada kesempatan ini Dr Anne-Marie memparkan perihal relevansi pemungutan suara elektrik di dalam sistem demokrasi. Namun, implementasi e-voting di negara-negara dengan jumlah penduduk yang besar seperti Indonesia ternyata tidak direkomendasikan. Hal tersebut karena potensi gangguan yang masih sangat tinggi, seperti pemungutan suara ganda, virus komputer, hingga instabilitas signal internet.

Acara kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab dari para peserta kepada kedua pembicara. Dari sesi ini, dapat disimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia masih terbilang masih muda dan belum cukup mapan jika dibandingkan dengan negara-negara barat. Regulasi di bidang media dan politik sangat dibutuhkan. KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) seharusnya memiliki kekuasaan untuk bisa menyensor konten-konten yang terlalu bias terhadap partai politik tertentu, sehingga masyarakat yang menyaksikan tidak mudah terjebak dalam kampanye hitam.

Dengan adanya acara ini, diharapkan para generasi muda Indonesia bisa lebih kritis dan bijak dalam menyikapi isu-isu politik yang terjadi di negaranya.

 

10844460_10205790751718969_1389735529_o