“There are two primary choices in our life, to accept the situation or to take responsibility to change them”, Direktur PBB di bidang Principles of Responsible Investment, James Gifford, menyampaikan pada acara Latihan Dasar Kepemimpinan di London.
Acara Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) di London kembali digelar oleh PPI UK untuk mengembangkan potensi para calon pemimpin bangsa di berbagai bidang kelak. Para peserta merupakan Ketua dan pengurus PPI Cabang dan juga pengurus PPI Pusat. Para peserta yang hadir ini disebut oleh narasumber James Gifford akan menjadi para pemimpin Indonesia di 20 tahun mendatang.
“In 20 years, PPI members around the world will be the elite in Indonesia”, ujarnya.
James Gifford, Direktur dari UNPRI yang menangani sekitar 34 Triliun USD di bidang Responsible Investment, juga mengajak para pelajar untuk tidak menerima saja kondisi Indonesia yang saat ini berisikan korupsi dan tata olah pemerintahan yang buruk. Dia menyebut generasi pada saat ini harus menjadi generasi yang ‘stand up’ atas permasalahan negara saat ini.
Ia merefleksikan bahwa untuk mengubah negara Indonesia sangatlah mungkin berdasarkan pengalaman negara-negara barat. Ia menyampaikan bahwa korupsi dan pemerintahan kotor sangatlah merajalela di 1-2 generasi yang lalu di dunia barat. “The west was rotten 1-2 years ago”, ujarnya. Dan karena adanya generasi yang berani melakukan perubahan, maka negara-negara barat tersebut kini memiliki pemerintahan yang baik.
Ia berpendapat bahwa sudah saatnya generasi pada saat ini untuk berdiri dan melakukan perubahan. “Enough is enough, we have to change this”, ujar pendiri Centre for Sustainable Leadership ini. Ia percaya bahwa para peserta yang hadir, beserta seluruh PPI di seluruh dunia, ketika nanti berusia 40-50 tahun, sudah berhasil memajukan Indonesia menjadi negara yang bersih.
“Government with integrity, bureaucracy with integrity”, ucap James Gifford.
James Gifford, yang memulai karirnya di Australia sebagai seorang aktivis penentang perusakan alam hanya semata-mata untuk mengeruk kekayaan ini, juga memberikan masukan-masukan untuk menjadi pemimpin di masa depan. 2 diantara masukan-masukannya adalah ‘Leave your ego behind, empower people’ dan ‘know your strengths and weaknesses; we all can’t be good in everything’.
Acara juga diisi oleh Ersa Tri Wahyuni, seorang pakar organisasi yang sedang menyelesaikan S3 di Manchester University. Beliau menyampaikan berbagai elemen-elemen berorganisasi untuk para peserta pelatihan. Hal-hal tersebut menjadi bekal bagi para peserta yang mungkin kelak akan bergabung di berbagai organisasi besar maupun di pemerintahan.
Para peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok dan ditugaskan untuk menggambar suatu objek yang menggambarkan PPI UK. Berbagai macam objek digambarkan antara lain ember, gado-gado, Garuda, Monas dan Api. Hal-hal tersebut merepresentasikan keberagaman, wadah, semangat, dan nasionalisme. Selain itu, peserta juga mengikuti simulasi sidang formal organisasi yang berskala besar.
Acara juga dibuka oleh Deputy Chief of Mission KBRI London, Harry Kandou, yang menyampaikan bahwa kegiatan LDK ini sangat penting. “Para pengurus harus menyamakan langkah agar berbagi program kerja dapat tercapai dengan baik”, ujarnya.
Selain itu, Atase Pendidikan KBRI London, TA Fauzi Soelaiman, juga menyampaikan beberapa hal saat sambutan acara. Atase Pendidikan yang sebelumnya juga memimpin PPI (Permias) di Minnesota, Amerika Serikat ini menyampaikan bahwa demokrasi adalah bentuk yang paling pas dalam memimpin organisasi pelajar seperti PPI ini.
“Pemimipin harus mengerti apa kebutuhan serta mengayomi para pengurusnya. Ia harus bisa merangkul semua level anggota dan mengajak yang tidak aktif menjadi aktif. Dan yang paling penting, pemimpin haruslah menjadi pemberi contoh yang baik”, ucap TA Fauzi Soelaiman.
Press Release: Antara
Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer