1. "Menyikapi isu 'Brain Drain', Menurut Anda, apa saja masalah utamanya?"
2. "Bila nanti sebagai Ketua PPI UK, Strategi dan Program kerja konkret seperti apa yang bisa Anda Anda lakukan untuk berkontribusi terhadap hal ini?"
3. "Sebagai pribadi dan calon Ketua PPI UK, apa saja keunggulan Anda (dibanding calon Ketua PPI UK lainnya) untuk bisa sebagai motor dan teladan untuk menjawab masalah 'Brain Drain' ini?"
Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer
Andre Menjawab (dan mengajak diskusi...)
Salam,
Rekan Badar..
Isu 'Brain Drain' merupakan sebuah permasalahan kompleks yang melibatkan bukan saja elemen mahasiswa atau pelajar namun juga pemerintah Republik Indonesia pada umumnya karena hal tersebut menjadi sebuah permasalahan nasional dalam realitanya. Penyebab hal tersebut bisa dari berbagai macam hal baik dari kurangnya lapangan pekerjaan yang tersedia di dalam negeri maupun kurangnya apresiasi terhadap individu yang memiliki kemampuan dan kompetensi baik secara sosial maupun secara finansial.
Pada dasarnya cara menyikapi 'Brain Drain' pada tiap individu berbeda sesuai dengan komitmen yang dipilih oleh individu tersebut. Jika berkaca pada mahasiswa dan pelajar yang ada di UK, maka mereka memiliki kepentingan yang berbeda setelah mereka menyelesaikan studinya. Mahasiswa dengan biaya sendiri mungkin akan lebih memilih untuk mencari lapangan pekerjaan di UK karena ingin mencari pengalaman ataupun kelayakan finansial. Mahasiswa yang mendapat beasiswa dari pemerintah Republik Indonesia, maupun dari organisasi lainnya mereka akan kembali untuk bekerja pada instansi masing-masing karena bagian dari komitmennya. Disini saya tidak ada maksud sama sekali untuk membeda-bedakan antara pelajar yang berangkat melalui biaya sendiri maupun dengan beasiswa, tetapi yang saya tekankan adalah komitmen dalam berkontribusi pada negara Indonesia. Bisa saja mahasiswa yang pada akhirnya bekerja di luar negeri, tetapi tetap memberikan kontribusinya terhadap bangsa baik melalui pendidikan maupun aktifitas lainnya saya anggap itu bukan sebagai 'Brain Drain'.
Strategi yang konkret
Jika membicarakan isu seputar 'Brain Drain', saya merujuk dan mengambil contoh pada program yang dicanangkan oleh mantan Gubernur Sumatra Utara, almarhum Raja Inal Siregar yang menggalakkan program "Marsipature Hutanabe". Dimana beliau sangat prihatin dengan warga Batak yang terkenal suka merantau ke Jakarta tetapi tidak pernah kembali untuk membangun daerahnya sendiri. Maka beliau ciptakan program tersebut yang pada dasarnya adalah gerakan membangun desa untuk 'memaksa' kembali para perantau dan membangun Sumatra Utara. Walaupun program tersebut kurang berhasil akibat terbatasnya sumber daya manusia pada saat itu, tetapi saya yakin apabila kita bisa menggalakan hal serupa sebatas pada organisasi PPI-UK maka isu 'Brain Drain' dapat kita rubah menjadi 'Brain Gain'. Tentunya dengan kerjasama yang intensif dan komprehensif dengan pemerintah Republik Indonesia.
Dengan perkembangan informasi dan teknologi yang sudah semakin canggih, maka yang bisa saya lakukan adalah menggalakan 'Marsipature Hutanabe' dalam bentuk memberikan kontribusi dan sumbangsih para mahasiswa untuk berperan aktif dalam pembangunan Indonesia semasa studi maupun ketika selesai nanti. Pemetaan kompetensi para pelajar dan membuka networking dengan para stakeholder di Indonesia merupakan hal yang bisa kita lakukan. Tentunya hal yang lebih baik bisa kita upayakan apabila rekan dan saudaraku Badar juga membantu untuk dapat mengatasi permasalah tersebut secara bersama. =)
Kenggulan untuk menjadi teladan
Berbicara tentang keunggulan, mungkin saya akan terkesan sedikit narsis rekan Badar, mohon maaf untuk itu. =) Alhamdulillah saya sangat bersyukur dilahirkan kan menjadi seorang warga Indonesia terlepas baik buruknya negara tersebut, hal yang saya bisa unggulkan adalah rasa nasionalisme saya yang begitu kuat terhadap negara ini. Saya akan kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi saya disini, saya harap hal tersebut bisa menjadi panutan bagi yang lain untuk dapat kembali ke Indonesia dan menciptakan tren 'Brain Gain' kedepannya nanti.
Seperti yang rekan Badar sampaikan pada jawaban atas pertanyaan saya sebelumnya, Apakah saudaraku Badar setuju dengan pandangan saya terhadap hal ini? Kalau iya, mari kita merapatkan barisan. Tapi kalau tidak, mohon beri nasehat saya untuk bisa lebih baik lagi. =)
Terima kasih.
Salam perjuangan,
Andre Nitimihardja
berbagi dengan Andre..
Saudaraku Andre, jawaban Anda sudah cukup bagus, saya sangat mengapresiasinya. Tapi belum memberi solusi konkret dan menggambarkan program Anda di PPI UK akan seperti apa. Malah Anda mengambil contoh yang kurang berhasil di Sumatera Utara. Sebagai bandingan utk konteks provinsi, Pemerintah dan warga Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat cukup berhasil dalam menjalankan ini, seperti program yg dirintis Pak JK dengan "Silaturahim Saudagar Bugis" setiap momentum Iedul Fitri dan kemudian ditularkan dengan "Silaturahim Pedagang Minang" dalam momen Syawal juga. Atau kalau zaman dulu, seperti yg dilakukan oleh Kerajaan demak yang memiliki daya tarik bagi orang2 dengan kapabilitas besar utk datang dan berkontribusi utk Demak dan tanah Jawa, dimana mereka kemudian terkenal sebagai "wali songo".
Atau dalam konteks global, bisa mengambil inspirasi dari pemerintah China dengan jaringan "overseas Chinese" yg berkontribusi dalam economic development-nya dan India dengan jaringan "Indian expat"-nya yg banyak membuka peluang kerja dan belajar dengan meng-outsource bbg teknologi canggih ke negaranya.. itu namanya "Brain gain" yang nyata.. :)
Dalam kaitan ini, Saya mengajak saudaraku Andre utk mewujudlan "brain gain" itu. Mari kita memberi kontribusi riil untuk bangsa, salah satunya dengan menjalankan program "Workshop tentang People to people diplomacy" seperti dalam program kerja yang saya propose.. :)
salam hangat,
badar,-
Pertanyaan dari Badar untuk
Salam,
Rekan Badar..
Terima kasih atas komentarnya, contoh yang saya ambil memang contoh yang gagal tetapi dari kegagalan tersebut kita bisa mempelajarinya sehingga bisa diambil kebaikannya, bukankah itu dari ciri manusia yang sukses? =) Yang saya tekankan adalah ide awal dari contoh tersebut rekan Badar, perlu diperbaiki kegagalannya dan dikembangkan lagi karena visinya bagus untuk mencegah 'Brain Drain' itu sendiri.
Saya siap jika diajak bekerja sama untuk melakukan program "Workshop tentang People to people diplomacy" seperti yang rekan Badar akan lakukan tetapi hal tersebut perlu digabungkan dengan misi saya yaitu dengan melakukan kerjasama strategis dengan PPI lain sebagai bagian dari hubungan eksternal PPI-UK agar dapat menjawab permasalahan ini. =)
Salam perjuangan,
Andre Nitimihardja
Pertanyaan dari Badar untuk
Haha..
Alhamdulillah, saya berterima kasih atas kesediaannya utk bekerjasama. Kerangka berpikirnya juga bisa nyambung.
Kalau ingin mengambil contoh, kan banyak yang lebih punya success story. Jangan terpaku pada satu model saja, sementara model tersebut kurang adekuat. Ambil hikmah/pelajaran dari siapapun juga selama itu baik.. bukankah hikmah itu sebetulnya juga milik orang2 beriman? Sebagai catatan, memang model di luar tidak akan sepenuhnya sesuai. Maka jangan dipaksakan sepenuhnya. Ambil baiknya.. dan kalau masih ada yg kurang sesuai dg kondisi kita, bisa kita improvisasi dengan kreativitas yang ada.
Bekerja untuk mengatasi 'brain drain' dan meraih 'brain gain' ini harus dengan kerangka strategis, dalam konteks global. Karena PPI UK selain berkiprah di seluruh jaringan pelajar Indonesia di UK, juga harus bisa berperan dalam level global.
Kalau visi saya, PPI UK ini juga akan menjadi salah satu motor dalam jaringan PPI dunia untuk memberi solusi bagi masalah 'brain drain' dan meraih 'brain gain'.
salam hangat,
badar,-