Home Dare To Dream, Care To Share Mengenang Kejayaan Majapahit sebagai Kerajaan Negara Maritim yang Kuat

Mengenang Kejayaan Majapahit sebagai Kerajaan Negara Maritim yang Kuat

Artikel ini merupakan satu artikel terbaik “Dare To Dream, Care To Share” edisi Juni 2015 (Indonesia, Masihkah Negara Maritim?). Artikel ini ditulis oleh Esti Mardiani-Euers, mahasiswa PhD di Department of Engineering, Lancaster University.


JALESVEVA JAYAMAHE, ‘Di lautan kita berjaya’. Demikian semboyan TNI AL yang sangat terkenal.

Masih validkah semboyan ini bagi NKRI, negara kepulauan terbesar di dunia? Lalu bagaimana dengan berita terjadinya pembajakan kapal tanker Pertamina, atau penyelundupan bahan bakar lewat lautan? Kalau yang diselundupkan cuma satu atau dua drum minyak, bisa tidak ketahuan, lha, ini yang diselundupkan satu tanker?!

Bulan lalu ada program di BBC yang menayangkan kehidupan para nelayan tradisional kita di salah satu pulau kecil di Indonesia Timur yang sulit mendapatkan hasil tangkapan ikan, karena kapal-kapal asing penangkap ikan yang besar dengan peralatan yang lebih canggih masuk ke perairan di sekitar hunian mereka.

Untuk kesekian kalinya, muncul berita tentang ‘hilangnya’ satu pulau di wilayah RI karena di-claim oleh negeri tetangga. Kita juga tahu, Singapura terus mengimpor pasir untuk reklamasi pantai, meluaskan daratannya. Lha, bagaimana nanti kalau Pulau Singapura sudah menempel dengan Pulau Batam, atau Pulau Bintan, atau Pulau Karimun Besar dan di-claim menjadi milik Singapura?

Mungkin para pemimpin kita berpikirnya sederhana: ‘Kan kita punya 17.000 ribu pulau, kalau hilang 100 pun masih punya 16.900.’ Mereka tidak sadar bahwa satu pulau hilang dari KNRI itu bisa mengancam kedaulatan kita!

Wahai TNI-AL ku, di mana kapal-kapal patrolimu berada?

Tetangga saya, Marie, anaknya yang sulung bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Pulau Madagaskar. Di sana dia menemukan satu kelompok masyarakat yang berbahasa Jawa. Ini menunjukkan bahwa sejarah benar, Majapahit dengan kekuatan Angkatan Lautnya yang digdaya telah mengarungi pelayaran sampai ke Madagaskar!

Obrolan dengan Marie membuat saya terdorong kembali menengok pelajaran Sejarah yang pernah menjadi salah satu mata pelajaran favorit saya dari SD sampai SMA.

Saya suka sekali pelajaran Sejarah dan Geografi. Apalagi kalau Bapak atau Ibu Guru bercerita tentang sejarah jaman dulu, mengenai peradaban dan kebudayaan suatu bangsa. Sungguh takjub mengetahui bahwa Cina, India, dan Mesir sudah memiliki peradaban yang sangat tinggi sekian ribu tahun sebelum Masehi. Sayang sekali, saya tidak bisa lagi mengikuti pelajaran Sejarah karena di kelas dua saya masuk kelas Pasti Alam yang tidak ada pelajaran sejarahnya.

Waktu masih SD, Ayah memberi saya buku sejarah Indonesia, cover-nya biru, bagus isinya, tentang tumbuh dan runtuhnya kerajaan-kerajaan besar di Nusantara. Ayah juga membeli beberapa buku Atlas dunia. Kami suka membuka-bukanya. Ayah menunjukkan kota-kota di Indonesia dan ibu kota negara-negara manca. Waktu itu  rasanya seperti sedang melakukan suatu perjalanan mengelilingi dunia.

Saya masih ingat ketika Bapak Guru mengajar Geografi di kelas, menjelaskan letak Indonesia di peta dunia. Posisinya sangat strategis, terdiri dari gugusan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, menghubungkan dua benua Australia dan Asia, berbatasan dengan tujuh negara: Australia, Singapura, Malaysia, Birma, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Garis pantainya membentang sepanjang ribuan kilometer.

peta-indonesia-bagus-besar

Gambar di ambil dari sini.

Lalu apa makna dan keistimewaan negara kepulauan dengan posisinya yang strategis ini?

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya dengan sumber alam daratan maupun lautan, dan memiliki tropical rain forest ketiga terbesar di dunia. Namun, segala keistimewaan dan kekayaan ini hanyalah sia-sia bila kita tidak bisa memanfaatkan, mengelola, mengolah, dan melestarikannya.

Mari kita tengok kembali ke sejarah kejayaan Majapahit, negeri Nusantara pertama sebelum NKRI yang merupakan negara maritim, de jure maupun de facto. Majapahit mencapai puncak kejayaan di bawah Hayam Wuruk yang berkuasa selama hampir 4 dasa warsa. Dia didampingi Patih Gajah Mada yang masyhur dengan sumpah Palapanya. Gajah Mada, seorang patih, negarawan, ahli strategi perang dan hukum. Namanya kini diabadikan sebagai nama universitas negeri tertua dan terbesar di Indonesia.

Di jaman Majapahit dulu, Hayam Wuruk, ‘Ayam yang pandai’,  berhasil memerintah dan menguasai seluruh Nusantara, dari Sabang sampai Merauke, sebagai bangsa yang berdaulat. Majapahit di bawah Hayam Wuruk adalah kerajaan maritim yang jaya, merupakan kekuasaan besar di Asia Tenggara, kombinasi sekaligus pengganti dua kerajaan besar sebelumnya, Mataram – negara pertanian,  dan Sriwijaya – negara maritim. Dia memerintah sejak usia enam belas tahun, 1350-1389.

Mungkinkah sebuah Negara maritim berkembang dan mencapai puncak kejayaan tanpa didukung angkatan laut yang kuat? Tentu saja tidak!

Keberhasilan Majapahit dalam mengembangkan teknologi bahari dengan membangun kapal bercadik menjadi tumpuan utama kekuatan armada lautnya. Di relief candi Borobudur kita dapat melihat pahatan kapal ini yang dibangun dengan pasak kayu, tanpa menggunakan paku! Layarnya terbuat dari tanaman yang dianyam yang mudah digerakkan sesuai arah angin, sehingga laju kapal dapat bergerak lincah sesuai tujuan.

Armada laut Majapahit juga didukung oleh persenjataan meriam hasil rampasan dari bala tentara Kubilai Khan ketika menyerang Kediri. Kapal-kapal Jawa berukuran raksasa dengan tiga-empat layar ini dikagumi dan dipuji kehebatannya oleh para penjelajah dunia di abad ke-14 seperti Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli, dan Ibnu Battuta. Kapal raksasa dengan panjang 70 meter dan berat lebih dari 500 ton ini mampu memuat 600 penumpang. Bisa dibayangkan betapa sudah majunya teknologi perkapalan waktu itu. Nusantara di bawah Majapahit tujuh abad yang lalu! Irawan Djoko Nugroho (2011) menyebutkan bahwa jumlah armada Jong Majapahit ketika itu mencapai 400 kapal. Di abad ke 12, Jawa sudah dikenal di jagat raya.

Dalam buku Da Asia yang ditulis oleh Dieo de Couto disebutkan bahwa orang Jawalah yang terlebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar. Banyak penduduk keturunan Jawa yang tinggal di Tanjung Harapan di awal abad ke-16, sampai sekarang.

Di tahun 1500, pelaut Portugis juga menemukan Kapal dagang milik orang Jawa di perairan Asia Tenggara. Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis menjadi kota orang Jawa. Banyak tukang kayu Jawa yang terampil membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar di Asi Tenggara. Juga banyak saudagar dan nakoda kapal Jawa yang menetap di sana. Merekalah yang menguasai jalur rempah-rempah yang sangat vital antara Maluku, Jawa, dan Malaka, sekaligus mengendalikan perdagangan internasional.

Kembali melihat negeriku masa kini. Masih mampukah kita memilki armada patroli laut yang mampu mengamankan jalur perdagangan perairan Nusantara, mengawasi kekayaan laut kita yang berlimpah ruah, dan menjaga utuh seluruh kepulauan Nusantara?

Kini Singapura, bukan Jakarta atau Palembang, yang memiliki pelabuhan dan pusat lintas perdagangan di Asia Tenggara, bahkan dunia.

Demikianlah nasib negeriku ketika kita menelantarkan apa yang mestinya menjadi potensi dan kekuatan kita. Laut adalah urat nadi dan paru-paru negara baharí. Maka hadirnya pelabuhan-pelabuhan, armada kapal penumpang dan perdagangan, kapal-kapal explorasi penelitian kekayaan laut, armada kapal patroli penjaga keamanan dan kekayaan perairan Nusantara adalah vital.

Ternyata di abad 21, di zaman high tech high touch ini, tidak cukup hanya mempunyai pemimpin yang pintar, cerdas, dan punya metal attitude yang benar. Kita juga perlu pemimpin yang punya wawasan yang luas, visi yang jauh ke depan, futuristik, untuk mengelola negeri kepulauan terbesar di dunia ini.