Home Pesan Anak Bangsa Bagaimana mendaftar PhD?

Bagaimana mendaftar PhD?

Oleh. Ahmad Mukhlis Firdaus

 Let us pick up our books and our pens,” I said. “They are our most powerful weapons. One child, one teacher, one book and one pen can change the world.” ― Malala Yousafzai, dalam bukunya I Am Malala: The Story of the Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban

Saat ini, minat untuk melanjutkan pendidikan jenjang S3 di Indonesia masih terbatas bagi mereka yang berprofesi sebagai akademisi dan peneliti. Sementara di negara-negara maju beberapa bidang professional membutuhkan kualifikasi jenjang S3 untuk jabatan tertentu atau juga sebagai salah satu faktor untuk menunjang karirnya. Selain itu, kesempatan kerja untuk bidang-bidang penelitian dan pengembangan atau yang dikenal sebagai research and development (R&D) di perusahaan swasta di Indonesia juga masih terbatas, membuat jenjang S3 masih hanya diminati oleh akademisi ataupun peneliti. Namun, ke depannya peningkatan kebutuhan lulusan S3 bagi Indonesia adalah sebuah keniscayaan.

Ketika kita memutuskan untuk meneruskan ke jenjang S3 biasanya kita akan bertanya-tanya, bagaimana caranya? Apa saja yang harus dipersiapkan agar keterima di program S3? Apakah metode penerimaan atau rekrutmen bagi mahasiswa S3 berbeda dengan jenjang S1 atau S2? Pertanyaan-pertanyaan ini yang sering muncul ketika kita akan memulai rencana untuk melanjutkan program S3.

Program S3 berbeda dengan S2 dan S1, begitu juga dengan mekanisme pendaftarannya.

Program doktoral atau S3 berbeda dengan program sarjana atau S1 (undergraduate) dan program magister atau S2 (master). Sarjana dan Magister merupakan program pendidikan yang diselenggarakan dengan kegiatan belajar mengajar. Artinya kedua strata tersebut diselesaikan dengan mengikuti perkuliahan. Sementara bagi program S3, belajar adalah proses mandiri. Kita tidak diwajibkan untuk mengikuti kelas tertentu namun ada beberapa kelas yang dapat kita ikuti sesuai dengan kebutuhan riset yang akan kita jalani.

Terdapat beberapa jenis program S3. Misalnya, program PhD yang mengharuskan mahasiswanya untuk mengikuti program MPhil atau MRes terlebih dahulu. Jika mereka dirasa mampu untuk melanjutkan riset maka mereka dapat melanjutkan program doktoralnya. Selanjutnya, ada juga program CDT atau Centre of Doctoral Training yang biasanya berafiliasi dengan Industri. Mahasiswa di program ini memiliki beberapa kelas yang harus diambil. Meskipun demikian, sebagian besar dari waktu mereka tetap difokuskan untuk menyelesaikan proposal penelitiannya.

Singkatnya, mahasiswa S3 diharapkan mampu untuk melakukan penelitian dan belajar secara mandiri demi pengembangan keilmuan. Mereka lebih banyak bekerja di laboratorium atau kantor yang disediakan oleh universitas. Sehari-harinya mahasiswa S3 bekerja menyelesaikan penelitian yang sudah direncanakan bersama dengan dosen pembimbing atau supervisornya.  Oleh sebab itu, kemampuan menyelesaikan penelitian merupakan salah satu faktor yang akan sangat dipertimbangkan dalam seleksi program S3. Kemampuan ini akan dilihat dari latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja pendaftar.

Kesediaan profesor merupakan kunci dalam seleksi program S3.

 Di Inggris (UK), penerimaan mahasiswa S3 sangat bergantung pada profesor. Jadi kita diterima atau tidaknya dalam program S3 sangat bergantung pada ada atau tidaknya profesor yang tertarik untuk menerima kita untuk bekerja di bawah supervisinya. Beberapa universitas di UK juga menetapkan standar tertentu dalam penerimaan mahasiswa, syarat ini sangat bervariasi tergantung universitasnya. Untuk universitas yang punya reputasi bagus seperti Oxford dan Cambridge, persyaratan penerimaan dari universitas cenderung tinggi dan tidak fleksibel. Persayaratan tersebut adalah kelulusan dengan status distinction untuk strata sebelumnya atau IPK minimum yang setara dengan 3.75 dari skala 4.00. Selain itu ada juga syarat kemampuan Bahasa Inggris (IELTS) dengan skor minimum keseluruhan (overall) 7.5 dengan skor minimum 7.0 di setiap bagiannya (Listening, Reading, Speaking dan Writing). Jadi penerimaan profesor baru bisa berlaku jika syarat minimum dari universitas ini dipenuhi. Namun untuk beberapa universitas lainnya, persyaratan ini jauh lebih fleksibel. Bahkan penerimaan sangat bergantung pada kesediaan profesor di universitas tersebut untuk menerima pelamar.

Beberapa universitas memiliki mekanisme pencarian profesor yang tertarik untuk membimbing kita. Namun hal ini kembali ke wewenang profesor tersebut karena pihak universitas tidak dapat memaksakan profesor untuk menerima kandidat yang diusulkan. Maka, cara paling mudah untuk bisa diterima adalah pendekatan dengan profesor terlebih dahulu. Tentu saja setelah kita yakin jika kita mampu memenuhi persyaratan kampus. Persyaratan ini dapat dengan mudah kita temukan di website kampus. Umumnya, persyaratan yang ada di website adalah persyaratan berkas. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut, kita dapat berkorespondensi dengan profesor yang kita harapkan menjadi supervisor kita. Ini merupakan cara yang sangat direkomendasikan.

Lalu, bagaimana membuat profesor tertarik untuk menerima kita? Apa saja yang perlu disiapkan?

Ada dua pendekatan yang biasanya dilakukan oleh calon mahasiswa S3. Pertama, mengirimkan email ke sebanyak mungkin profesor di berbagai universitas yang bidangnya sesuai dengan bidang keilmuan kita. Biasanya metode ini cocok untuk mereka yang ingin S3 namun belum punya bidang spesifik yang menjadi minat risetnya. Cara ini bisa juga dilakukan oleh mereka yang belum memiliki sasaran universitas spesifik.

Kedua, mencari tahu latar belakang supervisor yang kita tertarik untuk belajar di bidang tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan mempelajari bidang kahlian spesifik dari profesor tersebut dengan membaca publikasi dari profesor yang bidangnya kita minati. Cara ini biasanya cocok bagi yang sudah punya ketertarikan pada bidang tertentu yang sangat spesifik.

Pesan untuk calon profesor harus singkat, padat, jelas dan dapat menunjukan kemampuan Bahasa Inggris kita yang baik.

Kedua metode ini tentunya membutuhkan kemampuan menuliskan email dengan baik yang bisa menarik perhatian sang profesor. Dengan demikian profesor tersebut akan tertarik untuk mengenal lebih jauh lagi mengenai proposal dan pengalaman kita. Email yang baik adalah email yang singkat, padat dan jelas. Sebaiknya email yang kita kirimkan ke profesor tidak lebih dari dua paragraf yang berisi perkenalan diri, minat riset untuk melanjutkan S3 dan alasan ketertarikan kita. Perlu kita pahami jika seorang profesor menerima banyak sekali email lamaran ditambah kegiatan perkuliahan dan penelitian lain sebagai tugas kesehariannya. Email yang panjang cenderung tidak akan dibaca karena akan menghabiskan waktu mereka.

Selain menunjukan kemampuan diri di bidang yang kita lamar, email juga harus mampu menunjukan kemampuan menulis kita dalam Bahasa Inggris. Kita dapat menemukan banyak referensi di internet terkait ini, misalnya english manner untuk perkenalan, struktur email dan informasi penting lainnya. Jika sudah menemukan template yang cocok, kita bisa menggunakan template yang sama untuk mengirimkan ke profesor yang berbeda.

Siapkan CV, transkrip akademik dan tulisan berbahasa Inggris yang mampu menunjukan kelebihan kita.

Langkah berikutnya adalah persiapan CV, transkrip akademik dan tulisan akademik berbahasa Inggris. Kita dapat menggunakan jurnal ilmiah yang sudah dipublikasikan sebagai dokumen persyaratan. Jika belum memiliki jurnal ilmiah, kita dapat menuliskan resume dari penelitian yang kita lakukan saat S1/S2 dengan format jurnal akademik. Sama dengan sebelumnya, kemampuan berbahasa Inggris kita juga sangat penting di sini. Ada beberapa aplikasi yang dapat kita gunakan untuk membuat tulisan kita lebih baik. Misalnya http://www.just-the-word.com/ atau http://www.lextutor.ca/conc/eng/ yang dapat memberikan kita saran bagaimana collocation dari suatu kata atau bagaimana suatu kata digunakan dalam tulisan ilmiah.

Beberapa universitas mengadakan wawancara untuk melihat pemahaman kita terkait bidang yang kita daftar dan motivasi kita untuk melanjutkan S3.

Langkah berikutnya adalah wawancara. Untuk beberapa kampus di UK mereka sangat serius melihat kemampuan kita dalam mengkomunikasikan ide-ide penelitian atau pun latar belakang pengalaman kita.  Jadi mempersiapkan diri untuk proses wawancara ini adalah salah satu langkah penting untuk bisa diterima di program S3. Wawancara ini biasanya dilakukan secara online. Pada beberapa universitas, wawancara ini dilakukan sebanyak dua kali. Pertama dengan profesor yang akan menjadi supervisor kita. Wawancara ini akan lebih banyak mengonfirmasi informasi yang  didapatkan dari resume kita dan juga mengenai sejauh mana pemahaman kita terhadap bidang riset yang akan kita lakukan dibawah supervisinya. Wawancara kedua dengan kepala department/fakultas yang lebih banyak menitikberatkan pada motivasi dan latar belakang kita untuk melanjutkan kuliah ke jenjang S3. Jika kita berhasil melalui wawancara artinya 90% proses penerimaan kita dapat dikatakan sukses.

Dalam tahapan ini kita masih bisa dinyatakan lulus meskipun syarat Bahasa Inggris kita belum memenuhi. Sama halnya dengan tahap di program magister, kita akan diberikan Conditional Letter of Admission (LoA). Kita akan diberikan waktu dalam periode tertentu (tergantung universitas) untuk mengejar syarat tersebut. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa kampus yang fleksibel, namun ada juga yang sangat kaku dengan persyaratannya. Jika syarat ini sudah dipenuhi maka kita akan mendapatkan Unconditional LoA.

Bagian penting lainnya dari proses pendaftaran S3 adalah kemampuan finansial. Jika kita merasa memiliki kerterbatasan di sini, kita dapat mencari beasiswa. Saat ini cukup banyak beasiswa yang bisa kita dapatkan. Selain dari beberapa kampus yang menyediakan beasiswa doktoral, kita juga dapat mendaftar beasiswa LPDP yang akan menanggung seluruh tuition fee dan memberikan living allowance.

Oleh karena kebutuhan S3 akan menjadi suatu keniscayaan, mari siapkan diri kalian. Good luck dengan persiapannya!

**) penulis merupakan mahasiswa S3 PRS for Graduate Reading in Marine Renewable Energy, DPhil Program, University of Oxford

 

Comments