Home Dare To Dream, Care To Share Aku, Sekolah, dan Disabilitas

Aku, Sekolah, dan Disabilitas

Artikel ini merupakan satu dari 6 artikel terbaik “Dare To Dream, Care To Share” edisi Mei 2015 (Mendidik Anak Bangsa). Artikel ini ditulis oleh Muhammad Zulfikar Rakhmat, Mahasiswa MSc in International Politics, University of Manchester.


Disabilitas masih menjadi hal yang tabu di masyarakat kita. Sampai hari ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa penyandang disabilitas tidak layak untuk menempati posisi-posisi penting di masyarakat. Akibatnya, banyak diantara mereka yang pada akhirnya tersingkirkan dari kehidupan sosial. Sebagai salah satu dari mereka, aku pun tidak lepas dari stereotipe terhadap kaum difabel. Tantangan demi tantangan harus kulewati demi bisa diterima layaknya teman-temanku yang ‘sempurna.’ Salah satu tantangan terbesar yang harus kulewati adalah berhadapan dengan dunia pendidikan yang kurang memadai untuk kaum difabel.

Aku terlahir dengan gangguan saraf motorik di tubuhku. Dampaknya aku tak mampu untuk melakukan beberapa aktifitas, termasuk menulis. Keterbatasan inilah yang membuat orang tuaku harus banting tulang kesana kemari agar aku mampu bersekolah di sekolah umum seperti teman-temanku ‘normal’ yang lainnya. Untuk sekolah di sekolah umum, orang tuaku harus menemui beberapa orang ‘penting’ dan lembaga, cara logis dan umum yang dilakukan oleh banyak orang Indonesia. Anda punya masalah? Temui mereka orang-orang ‘penting,’ syukur-syukur berakhir dengan solusi dan ‘sedikit’ rasa iba. Namun, berkat keteguhan dan kesabaran ayah dan ibuku, aku diberi jalan. Meskipun harus melakukan beberapa ujian tes masuk untuk meyakinkan bahwa aku memiliki kapabilitas yang sama dengan mereka yang ‘normal,’ aku akhirnya bisa diterima di sekolah yang kuinginkan pada waktu itu.

Apa yang kualami juga dihadapi oleh banyak anak-anak difabel lainnya. Mereka harus berkerja keras melewati beberapa tes masuk untuk membuktikan bahwa mereka mampu berfikir dan berkerja seperti layaknya mereka yang ‘normal.’ Bagi mereka yang beruntung, bersekolah di sekolah umum adalah anugerah bagi kaum difabel. Bagi mereka yang gagal, mau tidak mau mereka harus rela dianggap sebagai manusia ‘tidak normal’. Penghukuman yang sungguh tidak adil terhadap kami kaum difabel.

Berulang kali ku berucap syukur, entah apa jadinya jika saat itu tak satupun sekolah ‘normal’ mau menerimaku. Barangkali Sekolah Luar Biasa (SLB) adalah satu-satunya jalan pilihan yang harus ditempuh. SLB yang sebetulnya tidaklah ‘luar biasa’ bagi kami kaum difabel. Karena di sekolah-sekolah itulah biasanya otak kaum difabel dikerangkeng, hati dan fisik mereka dipisahkan dari komunitas luas. Teringat ketika aku berkunjung ke salah satu SLB di daerah Jawa Tengah tidak lama ini. Sedih rasanya melihat anak-anak yang seharusnya mampu belajar Aljebra di bangku kelas 6 SD malah masih diajarkan menghitung angka 1 sampai 10 karena guru yang tidak berkompeten dan beranggapan bahwa anak-anak ini tidak mampu mencapai tingkat kecerdasan yang diinginkan. Sekolah yang seharusnya membuat anak ‘tidak biasa’ menjadi ‘luar biasa’ malah memberikan ‘keterbatasan’ yang sesungguhnya, bagi kaum difabel untuk lebih menikmati kehidupan.

Hari-hari di sekolah kujalani dengan penuh cerita. Cerita yang berbeda. Jika boleh jujur, dari hati yang paling dalam, sungguh ku tak ingin mengulang kembali detil cerita luka yang kualami sewaktu sekolah. Awalnya aku berpikir, cukuplah ini menjadi hikmah dalam hidupku yang harus kutimbun dalam-dalam di lubuk hati. Namun belakangan aku sadar. Ini sesungguhnya bukanlah cerita menyedihkan, harusnya ini menjadi cerita membahagiakan tentang kekuatan dan keberhasilanku melawan keterbatasan. Harusnya ini menjadi cerita hikmah yang sepatutnya didengarkan oleh setiap orang yang penuh kesempurnaan di dunia ini, agar kaum difabel bisa berjalan beriringan dalam setiap cerita-cerita hidup mereka.

parents stop the bullying
Bullying.’ Sebuah kata yang terus menghukum jantung hatiku semenjak belasan tahun yang lalu. Hari-hari disaat dilecehkan teman, didorong hingga kepalaku penuh jahitan, dikucilkan dari pergaulan, dan pulang ke rumah penuh tangisan. Yang ku ingat, tak ada yang bisa kulakukan selain berdiam diri di kelas di saat yang lain berlarian di jam istirahat. Datang ke sekolah selambat mungkin dan pulang secepat mungkin. Datang lebih awal adalah membuka kesempatan mendapatkan ciutan dan pulang lebih awal adalah satu-satunya jalan untuk melarikan diri dari pergaulan.

Dari semua cerita, satu hal yang masih kuingat jelas karena yang paling menyakitkan, mereka yang selalu meragukan kemampuanku. Ada satu pertanyaan yang sering kuterima. ‘Apa cita-citamu?’ Pertanyaan yang sebetulnya standar buat anak-anak SD yang waktu itu belum tahu apa-apa. Dengan penuh keyakinan ku selalu menjawab bahwa cita-citaku adalah menjadi seorang guru. Sejak kecil, Ayahku selalu menanamkan di diriku bahwa orang-orang terbaik adalah mereka yang bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya. Dan menurutku guru adalah salah satunya. Tapi sayang sekali beberapa dari mereka meragukannya dan ada yang menertawakannya, dan ada juga yang mengatakan ‘gimana jadi guru nulis di papan tulis aja nggak bisa?’

Aku selalu berharap bahwacerita-cerita yang kualami di bangku sekolah tidak lagi dirasakan oleh adik-adikku yang juga mengalami keterbatasan fisik. Tapi sepertinya, harapan itu masih jauh dari kenyataan. Beberapa kali aku diundang untuk berbagi cerita di beberapa sekolah dan cerita-cerita yang tidak jauh berbeda ku dengar kembali dari mereka.

Aku pernah ditanya, “Memangnya ada hubungan antara ‘bullying’ dengan prestasi di sekolah?’ Dengan lantang aku menjawab ‘Iya.’ Aku tahu betul karena aku mengalaminya. Tahun 2007, seusai menamatkan SMP, aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan SMA di Qatar, negara kecil di padang gurun Timur Tengah. Walaupun mencari sekolah yang bersedia menerima kekuranganku masih terbilang susah pada waktu itu, ada satu hal yang berbeda; tak ada lagi bullying. Pada saat bersamaan percaya diriku tumbuh dan bisa bersaing secara akademik dengan murid normal lainnya.

Jika boleh jujur, hari-hari yang penuh kebahagiaan justru kudapatkan setelah pergi ribuan kilometer dari bumi pertiwi. Hari-hari yang kulewati bukan lagi saat-saat mendendam rasa benci terhadap teman yang membully, perjuanganku jauh lebih membahagiakan. Perjuangan yang ditemani oleh sahabat-sahabat yang memberikanku dukungan tiada tara. Dukungan mental yang luar biasa sebagai jawaban atas kelemahanku. Setelah 18 tahun, akhirnya kunikmati apa itu makna persahabatan. Persahabatan yang menjadi asa dan semangatku yang sebenarnya. Efeknya, ku memahami menjadi manusia yang utuh, percaya diriku mulai tumbuh, dan nilaiku melonjak drastis. Berbekal nilai IPK hampir sempurna kuselesaikan kuliah sarjana dengan predikat lulusan terbaik dan salah satu yang tercepat dari Universitas Qatar dan akhirnya bisa melajutkan sekolah di tanah Eropa.

Disini, aku sangat terkesan dengan bagaimana masyarakat memahami kaum difabel dan melindungi hak-hak mereka. Sekolah-sekolah diwajibkan untuk menerima dan menyediakan fasilitas kepada siswanya yang berkebutuhan khusus. Murid-murid ini tidak dipandang sebelah mata. Mereka dinilai melalui apa yang mereka lakukan, bukan dari apa yang mereka tidak bisa lakukan. Mereka dianggap sama, walaupun dengan cara yang berbeda. Masyarakat disini percaya bahwa dibalik kekurangan yang dimiliki kaum difabel, tersimpan potensi besar dalam diri mereka. Kepercayaan tersebut mendorong kaum difabel disini untuk terus menggali potensi yang mereka miliki. Hebatnya lagi, guru-guru disini mampu mengajarkan arti perbedaan pada siswa-siswanya dengan cara yang sederhana seperti memberikan catatan pelajaran tertulis kepada siswanya yang tidak bisa menulis, memberikan waktu tambahan kepada mereka yang membutuhkannya, atau memberikan kelas tambahan untuk mereka yang memiliki learning difficulties. Proses inilah yang memberikan rangsangan kepada kaum difabel untuk terus percaya diri dari waktu ke waktu dalam meraih mimpi dan cita-citanya.

Ceritaku bukanlah cerita yang istimewa karena ada banyak orang di luar sana yang mengalami hal yang sama atau bahkan jauh lebih luar biasa. Tetapi hari ini ku merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia. Keberuntungan yang mungkin tidak didapatkan oleh banyak teman-teman difabel lainnya di Indonesia. Untuk semua perumus kebijakan, ahli pendidikan, atau bahkan pejuang pendidikan di Indonesia, harusnya kita sepakat bahwa pendidikan seharusnya menjadi rumah bagi semua orang. Pendidikan juga adalah titik awal dimana manusia dapat berjalan maju dan menikmati indahnya kehidupan. Jika titik awal ini buruk, maka yang seterusnya pun akan buruk. Kami kaum difabel memang berbeda, tetapi perbedaan itu bukanlah alasan mutlak untuk menolak kami mengenyam pendidikan di sekolah yang layak. Jika memang kami harus berjuang melawan keterbatasan, kami pasti akan lakukan, tapi jangan pernah halangi hak kami dan mimpi-mimpi kami.

Yang masih ingin menjadi guru,

Fikar – Manchester (Mei, 2015).

Comments